Buku / Bunga Rampai

KAYU BAWANG Bag VII

Jumat, 20 Apr 2018 | 101 Dibaca

KAYU BAWANG Bag VII

PENGATURAN KERAPATAN TEGAKAN UNTUK MENINGKATKAN

PRODUKTIVITAS HUTAN RAKYAT KAYU BAWANG

(Hengki Siahaan, Agus Sumadi, Purwanto)

Pengaturan kerapatan tegakan merupakan tindakan silvikultur lanjutan pasca penanaman untuk memastikan kapasitas daya dukung lahan termanfaat- kan seoptimal mungkin. Optimalisasi kerapatan tegakan terbukti dapat me- ningkatkan produktivitas hutan tanaman di berbagai tempat. Jayaraman dan Zeide (2007) melaporkan bahwa produktivitas hutan tanaman jati di Kerala, India meningkat sebesar 42% dengan meningkatkan kerapatan tegakan yang mempunyai stok rendah (understocked stand) hingga mencapai indeks kera- patan 400 dan menurunkan kerapatan tegakan yang mempunyai stok berlebih (overstocked stand). Demikian pula produktivitas hutan tanaman pinus di Jawa dapat ditingkatkan melalui manajemen kerapatan tegakan menggunakan diagram manajemen kerapatan tegakan (Heriansyah et al, 2008).

Produktivitas hutan tanaman kayu bawang yang dikembangkan dalam bentuk hutan rakyat di Provinsi Bengkulu umumnya masih rendah dengan kisaran 12,83-22,03 m3/ha/tahun, bahkan pada beberapa tempat produktivitasnya masih di bawah 10 m3/ha/tahun (Siahaan & Sumadi, 2013). Clutter et al., (1983) menyebutkan bahwa produktivitas tegakan pada suatu tempat tumbuh ditentukan oleh dua hal, pertama, kapasitas atau kualitas tempat tumbuh dan kedua adalah bagaimana kapasitas tempat tumbuh tersebut dimanfaatkan. Demikian halnya pada tegakan kayu bawang di Provinsi Bengkulu, rendahnya produktivitas, selain karena faktor kualitas tempat tumbuh, juga disebabkan oleh kerapatan tegakan yang tidak optimal. 

Hasil pengamatan pada berbagai lokasi pengembangan hutan tanaman kayu bawang di Provinsi Bengkulu menunjukkan bahwa kerapatan tegakan kayu bawang ditanam sangat bervariasi berkisar antara 106-1767 pohon per hektar pada umur > 4 tahun. Sebagian besar tegakan mempunyai stok yang rendah yaitu dengan kerapatan < 250 pohon per hektar walaupun ada sebagian kecil tegakan mempunyai stok > 1000 pohon per hektar. Pengaturan kerapatan tegakan pada hutan tanaman kayu bawang ini menjadi semakin penting karena sebagian besar tegakan kayu bawang ditanam dengan pola agroforestri. Pada prinsipnya kayu bawang dapat ditanam dengan pola campuran dengan komoditas tanaman lain baik tanaman perkebunan seperti karet, kopi, kakao dan sawit, maupun jenis hortikultura seperti kacang- kacangan, umbi-umbian dan sayur-sayuran, namun yang terpenting adalah bagaimana pengaturan kerapatan tegakan dilakukan. 

Pengaturan kerapatan tegakan berdampak terhadap parameter pertumbuhan tegakan kayu bawang itu sendiri, baik tinggi, diameter, ataupun volume tegakan dan pada akhirnya akan menentukan produktivitas tegakan. Demikian pula terhadap pertumbuhan tanaman pencampur pada pola tanam campuran, sehingga secara keseluruhan akan mempengaruhi produktivitas lahan. Dalam hal ini, strategi pengaturan kerapatan tegakan harus disesuaikan dengan pola tanam yang diterapkan, apakah monokultur atau pola campuran. Misalnya jika kayu bawang ditanam dengan jenis-jenis hortikultura yang berdaur pendek, maka jenis tanaman ini hanya dapat ditanam hingga umur tegakan 4-5 tahun sehingga pengaturan kerapatan tegakan dapat mengikuti pola monokultur. Tetapi jika kayu bawang ditanam dengan jenis tanaman perkebunan atau tanaman berdaur panjang seperti kopi, karet, atau sawit, maka pengaturan kerapatan tegakan harus disesuaikan untuk memberikan ruang tumbuh pada tanaman pencampur hingga akhir daur.

*Untuk lebih jelasnya silakan klik tombol baca atau unduh yang ada disudut kanan bawah pada tulisan ini, earley*


Baca Unduh


Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar