Buku / Bunga Rampai

Buku Panduan dan Abstrak

Selasa, 31 Jul 2018 | 81 Dibaca

Buku Panduan dan Abstrak

PENDAHULUAN

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) gambut tahun 2015 dinilai banyak pihak sebagai pengalaman terburuk sepanjang sejarah kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Puncak bencana ekologi berulang ini telah membangkitkan kesadaran dan tindakan politik untuk melakukan restorasi gambut. Pada tahun 2016, pemerintah membentuk Badan Restorasi Gambut (BRG). Salah satu fungsi BRG yang disebut secara eksplisit oleh Perpres. No. 1 tahun 2016 adalah pelaksanaan konstruksi infrastruktur pembasahan (rewetting) gambut dan segala kelengkapannya. Kronik peningkatan intensitas  kebakaran lahan gambut memang tidak terlepas dari kerusakan fungsi hidrologis gambut yang berperan sebagai penyebab dan sekaligus dampak dari kejadian kebakaran itu sendiri. Karenanya, pemerintah menetapkan target restorasi lahan gambut sampai tahun 2020 seluas 2 juta hektar.

Perhatian terhadap urgensi restorasi mulai mengemuka sejak dekade tahun 1990an. Restorasi memberi tekanan pada pengembalian komposisi dan struktur ekosistem (Page & Riley 2008). Ini berarti bahwa kegiatan restorasi gambut tidak sekedar restorasi hidrologis. Dudley et al (2005) memberikan catatan bahwa restorasi merupakan sebuah proses terencana untuk mendapatkan kembali integritas ekologis dan menguatkan kesejahteraan manusia. Sebagai sebuah ‘proses terencana’, pemerintah selain membentuk BRG dan menyusun Tim Restorasi Gambut (TRG) di tingkat provinsi, juga telah merevisi Peraturan Pemerintah Nomor 71 tahun 2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut. Salah satu pertimbangan perubahan PP tersebut adalah kesadaran bahwa gambut merupakan ekosistem rentan dan telah mengalami kerusakan yang disebabkan kebakaran hutan dan lahan tahun 2015. Namun demikian, hingga kini belum ada batasan yang jelas tentang cakupan dan target akhir bentuk ekosistem hasil restorasi gambut Indonesia.

Catatan-catatan ilmiah tentang restorasi gambut selalu menyebut 4 (empat) aspek utama kegiatan restorasi; yaitu 1) pelibatan masyarakat; 2) restorasi hidrologis; 3) restorasi dan rehabilitasi (aspek kehutanan dan biologi); 4) pencegahan kebakaran. BRG kemudian menggunakan istilah 3R, yaitu Rewetting (pembasahan kembali), Revegetation (revegetasi), dan Revitalization of livelihoods (revitalisasi sumber mata pencaharian). Tidak/belum ada preskripsi umum yang meyakini satu aspek lebih penting dari aspek yang lain, atau satu aspek menjadi prasyarat bagi keberhasilan aspek lain. Para pakar merekomendasikan agar seluruh aspek restorasi dijalankan secara simultan. Pelajaran-pelajaran dari praktik lapangan dari beragam tempat, beragam kondisi ekologis dan sosial yang melintasi ruang dan waktu akan sangat membantu memprediksi peta jalan aksi restorasi yang sedang berjalan dan akan dilakukan.


Baca Unduh


Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar