Utama

WASPADAI PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN, CEGAH KONFIK KONSERVASI

Rabu, 8 Mei 2019 | 74 Dibaca

WASPADAI PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN, CEGAH KONFIK KONSERVASI

BP2LHK Palembang (Palembang, 08/05/2019). Kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dalam kurun waktu 10 tahun mengalami penurunan penutupan lahan hutan primer sebesar 51,3% atau 2,6 % pertahun. Di lain pihak, kelas penutupan lahan hutan rawa dan hutan sekunder mengalami peningkatan luas. Bila perubahan tutupan lahan ini tidak diwaspadai, bukan tidak mungkin luasan hutan primer akan terus tergerus dan keanekaragaman hayati di TNWK akan terancam punah.

“Informasi perubahan tutupan lahan ini tidak dapat diabaikan begitu saja oleh pengelola taman nasional tatkala ingin menentukan strategi pengelolaan kawasan”, ujar Gebyar Andono, seperti dikutip dari tulisannya “Analisis Penginderaan Jauh Multi-Temporal terhadap Perubahan Penutupan Lahan di Daerah Penyangga dan Dalam Kawasan Taman Nasional Way Kambas, Lampung” yang terbit di Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana Vol.1 No 2.  Dalam tulisan ini, Gebyar juga menunjukkan penutupan lahan akan memberikan tekanan yang nyata bagi taman nasional. Tekanan terhadap kawasan konservasi terwujud dalam berkembangnya densitas populasi manusia dengan meningkatnya pemukiman dan penggunaan lahan dalam pertanian dan perkebunan. Tekanan ini berdampak pada masalah-masalah konservasi seperti konflik antara manusia dan satwa liar, perburuan liar, dan pembalakan. “Tekanan ini menyebabkan terisolasinya kawasan taman nasional secara ekologis. Isolasi ekologis ini tidak akan menguntungkan dalam konflik manusia dan gajah liar di TNWK, karena tidak memungkinkan pembuatan koridor bagi gajah liar untuk bergerak”, jelasnya.

Gebyar bersama tiga penulis lainnya, yaitu Djoko Marsono, Ronggo Sadono dan M. Ali Imron menggunakan metode modifikasi klasifikasi citra satelit berdasarkan SNI 7645:2010 tentang Klasifikasi Penutup Lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan penutupan lahan untuk tahun 1990, 2000 dan 2010 di kawasan penyangga TNWK. Analisis penutupan lahan ini penting dilakukan oleh manajemen kawasan konservasi agar dapat memantau tekanan yang akan didapat oleh kawasan.

Dari penelitian mereka, teridentifikasi 17 kelas penutupan lahan di dalam dan di sekitar TNWK. Hasil analisisnya menunjukkan bahwa pemukiman memperlihatkan perubahan positif sebesar 30,35% atau 1,52% per tahun. Walaupun perkebunan menunjukkan penurunan sebesar 10,13% atau 0,51% per tahun, tetapi kelas sawah menunjukkan peningkatan. Tulisan ilmiah ini selengkapnya dapat dibaca di http://ejournal.forda-mof.org/ejournal-litbang/index.php/JPKS/article/view/2631/4550. (FA).

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar