Utama

Tanaman Hutan dan Usaha Penyembuhan Penyakit Degeneratif Metabolik

Jumat, 14 Sep 2018 | 82 Dibaca

Tanaman Hutan dan Usaha Penyembuhan Penyakit Degeneratif Metabolik

Palembang, (BP2LHK Palembang, 14/09)_ Sejak dulu nenek moyang Bangsa Indonesia telah turun temurun  menekuni pengobatan tradisional dengan memanfaatkan tumbuhan yang terdapat di alam. Praktek pemakaian tumbuhan sebagai obat diharapkan dapat terdokumentasi dengan baik. Warisan budaya leluhur tersebut diharapkan dapat terpelihara untuk kepentingan generasi yang akan datang dalam memahami salah satu budaya menjaga kesehatan sehingga etnofarmakologi menjadi keniscayaan dengan dukungan pengetahuan ilmiah untuk mempelajari efek dari tumbuhan berkhasiat obat yang telah dimanfaatkan oleh masyakat.

Pemanfaatan tanaman hutan berkhasiat obat sebagai obat herbal saat ini sudah mulai dikembangkan. Menurut Ir. Asmaliyah, M.Sc., peneliti utama Balai Penelitian dan pengembangan lingkungan hidup (BP2LHK) Palembang, tanaman hutan berkhasiat obat memiliki senyawa kimia tertentu yang memiliki efek yang menguntungkan bagi kesehatan atau memiliki peran aktif mencegah maupun mengobati penyakit.

“Tanaman berkhasiat obat umumnya memiliki senyawa bioaktif seperti alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid dan senyawa fenolik merupakan unsur yang paling penting yang memiliki kemampuan mengerahkan tindakan fisiologis pada tubuh manusia” jelas Asmaliyah.

Lebih lanjut, Asmaliyah mengatakan pola hidup masyarakat modern saat ini umumnya tidak seimbang. “Pola makan yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, konsumsi alkohol dan rokok, serta meningkatnya stress menjadi faktor pemicu penyakit degeneratif metabolik seperti diabetes melitus, hipertensi, stroke, jantung, gagal ginjal, kanker, sakit kuning dan pikun” tambahnya.

Penyakit degeneratif metabolik sendiri dapat diartikan sebagai penyakit yang terjadi karena adanya penurunan fungsi organ tubuh akibat proses penuaan yang umumnya terjadi pada usia tua, namun tidak menutup kemungkinan bisa terjadi pada usia muda. Penyakit ini umumnya diawali dengan adanya sindrom metabolik, yang tidak muncul secara tiba-tiba namun melalui proses panjang dan perlahan yang berhubungan erat dengan gaya hidup seseorang. Penyakit degeneratif metabolik ini dapat dicegah dengan cara meminimalkan faktor-faktor resiko penyebabnya.

Beberapa kajian terdahulu menyebutkan bahwa terdapat lebih dari 50 jenis tumbuhan berkhasiat obat telah dimanfaatkan oleh masyarakat, misalnya hasil kajian pada suku Seko di Desa Tanah Harapan, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah menemukan 55 jenis tumbuhan obat digunakan untuk pengobatan berbagai penyakit, seperti maag, hipertensi, jantung, kolesterol, diabetes, ambeien, penyakit kuning dan asma.  Kemudian 73 jenis tumbuhan obat yang digunakan masyarakat suku Manggarai di pegunungan Ruteng kampung Mano, Lerang dan  Wae Rebu, Kabupaten Manggarai, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk pengobatan kencing manis, lever, kanker, tumor, ginjal asma, maag dan rematik. Masyarakat suku Moronene di kawasan kampung adat Hukaea laea di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, Provinsi Sulawesi Tenggara memanfaatkan 62 jenis tumbuhan obat untuk pengobatan beberapa penyakit, seperti darah tinggi, diabetes, maag, hepatitis dan kembung. Masyarakat lokal di Kecamatan Sindang Kelingi, Kabupaten Rejang lebong, Provinsi Bengkulu menggunakan 117 tanaman obat untuk penyakit diabetes, hipertensi, ginjal, diare, batuk dan pegal linu. Di Papua, masyarakat marind yang bermukim di sekitar Taman Nasional, Merauke, memanfaatkan sekitar 46 jenis tumbuhan yang digunakan sebagai obat untuk berbagai penyakit.

Hasil kajian etnobotani yang dilakukan di Sumatera Bagian Selatan yakni Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu dan Lampung menemukan 238 jenis tumbuhan berkhasiat obat untuk pengobatan penyakit degeneratif metabolik. Dari kesemuanya itu lima jenis tumbuhan sudah teruji secara invitro mempunyai aktivitas anti diabetes dan anti kolesterol, yaitu: Kayu Salai (Glochidion sericeum), tanaman kapung (Oroxylum indicum), rumpun pohon pelawan merah (Tristaniopsis sp.), Pohon medang sahang (Neolitsea sp.) dan bungur (Lagerstromia specioca).  Soe**)

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar