Utama

Solusi Kelangkaan Benih Si Pahit

Senin, 6 Mar 2017 | 179 Dibaca

Solusi Kelangkaan Benih Si Pahit

BP2LHK Palembang (Palembang, 06/03/2017)_Produksi terbatas dari benih sebagai materi utama dalam pembuatan bibit merupakan permasalahan utama dalam pengembangan kayu bawang (dikenal dengan nama kayu pahit). Hal ini disebabkan oleh waktu berbunga dan berbuah kayu bawang tidak kontinyu, yang mungkin terjadi akibat perubahan iklim sejak tahun 2010, dimana musim panas dan musim penghujan tidak mempunyai batas yang jelas.

Pengembangan kayu bawang menjadi terkendala karena tidak tersedianya materi bibit kayu bawang secara generatif/benih. Agar masyarakat tetap bisa mengembangkan jenis ini, maka harus segera diatasi dengan teknik produksi bibit yang tidak mengandalkan produksi benih sebagai unsur utama atau produksi bibit secara vegetatif. Adapun solusi tepat untuk mengatasi kelangkaan benih kayu bawang yaitu dengan teknik cangkok. Hal ini diungkapkan oleh tim peneliti Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Palembang, Imam Muslimin, Nanang Herdiana dan Kusdi dalam Prosiding Seminar Teknologi Perbenihan, Silvikultur, dan Kelembagaan dalam Peningkatan Produktivitas Hutan dan Lahan (Bandar Lampung, 11/08/2015) Aspek Perbenihan Hal. 97−106.

"Kayu bawang  (Azadirachta excelsa) merupakan salah satu tanaman unggulan daerah Provinsi Bengkulu. Banyak diminati masyarakat karena tingkat pertumbuhan dan perkembangannya yang cepat sebagai bahan baku pembuatan perlengkapan alat rumah tangga seperti lemari, meja, kursi, tempat tidur sampai kontruksi bangunan misalnya kusen, dinding dan sebagainya. Kayu bawang termasuk kelas awet dan kelas kuat IV, memiliki serat yang halus sehingga mudah diolah. Batang berbentuk bulat lurus, tinggi pohon bisa mencapai 30−40 m dengan diameter 100−120 cm. Kulit batang berwarna abu-abu sampai coklat muda dengan tekstur agak licin. Daunnya majemuk tunggal, berbentuk elips, ujungnya meruncing dengan tulang daun menyirip. Kayu bawang mampu tumbuh di berbagai jenis tanah dan relatif tidak membutuhkan persyaratan tumbuh yang spesifik. Secara topografis umumnya tumbuh pada ketinggian sampai dengan 700 mdpl dengan curah hujan 3.500−5.000 mm/th (Muslimin et al, 2015).

"Biji kayu bawang berada dalam buah yang berbentuk bulat telur, berisi satu biji, panjang 2,5−3,2 cm, berwarna hijau pada saat muda dan kuning ketika masak. Biji mempunyai panjang 20−25 mm, lebar 10−12 mm dan terdapat sekitar 500 biji/kg. Tanaman kayu bawang yang berada di Kabupaten Rejang Lebong (Bengkulu) dan berbatasan dengan Kabupaten Musi Rawas (Sumsel) berbuah pada bulan Juli−Agustus, sedangkan yang berada di Kabupaten Banyuasin (KHDTK Kemampo) berbuah pada bulan Desember−Januari," tambahnya.

Muslimin et al (2015) menyatakan bahwa cangkok adalah pembiakan vegetatif dengan cara pemotongan kulit beserta kambiumnya sehingga terputus makanan dari bawah/akar ke atas dan dari atas ke bawah, lalu diberi media tanam dan di bungkus untuk merangsang terbentuknya akar. Di siram 2 kali sehari pagi dan sore. Cabang yang dipilih untuk cangkok ini yang sudah berkayu. Pencangkokan ini dilakukan untuk tujuan meng“copy” sifat unggul genetik induk. Cangkok kayu bawang berfungsi sebagai teknik “antara” untuk menghasilkan materi dasar perbanyakan yang selanjutnya akan digunakan sebagai bahan perkembangbiakan vegetatif dengan stek. 

Keberhasilan pembuatan cangkok dilihat dari adanya perakaran pada media cangkok. Perakaran mulai muncul pada minggu ke-4 dan dalam jumlah yang banyak dan kompak pada minggu ke 8−12. Bilamana perakaran sudah banyak dan kompak, maka cangkokan dapat dipanen dengan memotong tepat di bagian bawah media perakaran cangkok. Pemapanan cangkok dapat dilakukan langsung tanam di lapangan atau di masukan ke polybag dan di pelihara dulu di persemaian sampai siap tanam.

"Kegiatan pembuatan cangkok pada tanaman kayu bawang di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Kemampo pada umur 3 tahun mempunyai tingkat keberhasilan yang tinggi yaitu sekitar 90% pada umur cangkokan 2,5 bulan. Menurut Muslimin et al (2015) tingkat keberhasilan yang tinggi pada kegiatan pencangkokan batang kayu bawang tersebut merupakan satu hal yang sangat positif dan mengindikasikan bahwa jenis kayu bawang termasuk jenis yang responsif terhadap kegiatan pencangkokan. (***WI)

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar