Utama

PEMAHAMAN MINIM, MASYARAKAT BELUM EFEKTIF BUDIDAYA DI LAHAN GAMBUT

Rabu, 15 Mei 2019 | 70 Dibaca

PEMAHAMAN MINIM, MASYARAKAT BELUM EFEKTIF BUDIDAYA DI LAHAN GAMBUT

BP2LHK Palembang (Palembang, 13/05/2019). Pemahaman petani di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan terhadap pola pemanfaatan lahan rawa gambut masih diindikasikan minim. Sistem pengolahan lahan yang umumnya menggunakan teknik guludan dan pembuatan saluran drainase, kedepannya akan menelurkan masalah lainnya, seperti degradasi tanah, penurunan permukaan tanah (subsiden) serta turunnya produktivitas panen. Lebih jauh, akan terjadi efek berantai dari kerusakan tersebut yaitu emisi gas rumah kaca, kehilangan keanekaragaman hayati dan kebakaran hutan dan lahan.

Informasi ini terungkap dalam tulisan ilmiah Dony Rachmanadi, Tri Wira Yuwati, M.A. Qirom, Purwanto BS dan Ari Nurlia yang berjudul “Perspektif Paludikultur dalam Pemanfaatan Lahan Gambut di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah”, yang dimuat dalam Prosiding Seminar Nasional Balai Litbang LHK Palembang tahun 2018, dengan tema Merawat Asa Restorasi Gambut, Pencegahan Kebakaran dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat.

Menurut Dony Rachmanadi, teknik guludan dan pembuatan saluran drainase ini akan mengeringkan lahan rawa gambut (drainage-based) sehingga akan menyebabkan emisi gas rumah kaca yang sangat besar dan tidak lestarinya produktivitas karena terjadinya degradasi tanah. Untuk itu perlu diterapkan konsep lain yang lebih memperhatikan kondisi lahan rawa gambut yang sangat peka terhadap gangguan atau pengolahan. “Ada satu konsep pemanfaatan lahan rawa gambut yang diyakini dapat lestari karena pemanfaatan lahan dilakukan sesuai dengan kapasitas kemampuan lahan rawa gambut tersebut. Konsep ini dikenal dengan terminologi paludikultur atau secara sederhana diartikan sebagai budidaya lahan basah”, tutur Doni. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa konsep kunci sistem paludikultur adalah pemanfaatan lahan rawa gambut dilakukan tidak dengan mengubah atau memanipulasi kondisi lahan alami untuk disesuaikan dengan komoditas yang akan dikembangkan.

Lahan gambut di Kalimantan Selatan umumnya dikategorikan sebagai tanah bergambut, sedangkan di Kalimantan Tengah cenderung termasuk kategori lahan gambut menengah, dalam dan sangat dalam. Perbedaan kedalaman lapisan gambut ini akan mempengaruhi pola paludikultur yang dikembangkan di suatu daerah. Selain tipologi lahan, latar belakang/pengalaman dari tempat asal petani lah yang menjadi penentu pilihan komoditas. Pilihan komoditas ini berimplikasi pada sistem pengolahan lahan. “Dari 30 komoditas usaha tani, kurang dari 15% merupakan komoditas asli lahan rawa gambut. Komoditi ini biasanya berupa kelakai, galam, blangeran dan ikan papuyu. Padahal ada lebih dari 500 jenis komoditas asli lahan rawa gambut yang dapat dikembangkan. Ini mengindikasikan masih minimnya pemahaman masyarakat tentang budidaya di lahan rawa gambut”, seru Dony.

Minimnya pengetahuan budidaya di lahan gambut ini dapat distrategikan dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai kondisi lahan rawa gambut, sehingga bisa memilih komoditas apa yang adaktif dan dapat dikembangkan, sehingga bermanfaat secara ekonomi tanpa menghilangkan manfaat ekologi nya. Selain itu, keterlibatan multi pihak juga menjadi kunci utama penerapan konsep paludikultur. Regulasi dan kebijakan yang tepat diharapkan mampu memfasilitasi masyarakat yang menerapkan konsep paludikultur. Fasilitas ini dapat berupa insentif dan kepastian pasar hingga pada penegakan tata peraturan pemanfaatan lahan rawa gambut dan perlindungannya. Tulisan ilimah ini selengkapnya dapat dibaca dihttp://www.bpk-palembang.org/publikasi/buku/buku-prosiding-seminar-2018.html (FA)

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar