Utama

Kunjungan Supervisi PUI Berikan Suntikan Semangat BP2LHK Palembang

Kamis, 8 Ags 2019 | 62 Dibaca

Kunjungan Supervisi PUI Berikan Suntikan Semangat BP2LHK Palembang

BP2LHK Palembang (Palembang, 31/07/2019)._Kunjungan supervisi Tim Pakar Pusat Unggulan Iptek (PUI) ke Balai Litbang LHK Palembang memberi motivasi lebih kepada peserta rapat yang hadir saat itu untuk mempercepat capaian indikator kinerja PUI, agar segera bisa ditetapkan menjadi PUI di bidang restorasi lanskap hutan dataran rendah (Rabu, 31/07). “Setelah melihat dokumen dan kunjungan lapangan nanti, Tim PUI bisa melihat Balai kami cocok ditetapkan menjadi PUI” ujar Kepala Balai Litbang LHK Palembang, Tabroni optimis kepada Tim Pakar PUI, Guru Besar Fakultas Pertanian Prof. Rujito Agus Suwignyo dan Guru Besar Fak. Kehutanan, Institut Pertanian Bogor Prof. Sri Wilarso Budi dan Tim Sekretariat PUI, Kemenristek Dikti, Aswin Firmansyah dan Ichsan Usafa.

Tabroni mengatakan supervisi ini menjadi ajang penyempurnaan dokumen Balai. “Kami mohon pencerahan dan masukannya atas apa yang kami kerjakan selama 1 semester ini. Apakah kita masih on the track sesuai apa yang disyaratkan PUI atau sudah agak melenceng”, ujar Tabroni.

Menanggapi hal tersebut, Aswin Firmansyah dari Sekretariat PUI Ristek Dikti mengatakan bahwa supervisi ini dilakukan sebagai pendampingan kepada instansi yang dibina, sehingga instansi mampu mendeskripsikan komponen apa saja yang menjadi keunggulannya, mengapa dan sampai dimana prosesnya, serta komponen apa saja yang menjadi permasalahan di instansi tersebut. “ Kami menantang institusi Bapak untuk menjawab 27 indikator yang telah ditetapkan dalam prosesnya. Jadi yang dinilai kelembagaannya bukan personilnya”, ujar Aswin.

Selain itu, Aswin juga menjelaskan bahwa indikator penilaian di PUI lebih bersifat kualifikasi, sehingga yang dinilai proses atau aktifitas yang menghasilkan outcome, yaitu apakah lembaga punya produk unggulan, apakah baik pada proses maupun luaran mendapat apresiasi dari pihak lain, dan objek produk itu sendiri. Maka itu, biasanya instansi mengidentifikasi dulu yang paling mudah untuk dilengkapi dan dilakukan sesuai dengan karakteristik instansi tersebut.

Perkembangan kegiatan kemajuan PUI di Balai dilaporkan oleh Koordinator PUI, Sri Utami. Dalam laporannya dijelaskan sudah banyak indikator capaian yang berhasil direalisasikan Balai, namun, ada juga beberapa indikator capaian yang tidak bisa dipenuhi Balai, karena Tim masih kesulitan menterjemahkan produk unggulan. “Selama ini tidak ada kontrak bisnis yang ditandatangani karena Balai kami bergeraknya di hulu. Memang ada beberapa produk unggulan seperti cuka kayu, kayu putih, teh pelawan, dan demplot agrosilvofishery, namun masih dalam skala penelitian dan pengembangan, serta belum pernah ditawarkan ke mitra bisnis”, tutur Sri Utami.

Dengan adanya supervisi ini, Sri Utami mengungkapkan tim nya akan lebih mudah memaknai “produk” yang disyaratkan dalam PUI serta tidak harus binggung mencari produk unggulan Balai.

Merespon laporan kemajuan kegiatan PUI disampaikan, kedua Guru Besar memberikan apresiasinya atas terpilihnya Balai Litbang LHK Palembang karena tidak mudah untuk terpilih sebagai binaan PUI. “Saingannya banyak dan ketat, secara tidak langsung Balai ini sudah diakui punya keunggulan di bidang yang diusulkan”, ujar Prof. Sri Wilarso Budi.

Prof. Sri Wilarso Budi juga mengusulkan untuk membuat bank proposal di Balai karena Balai mempunyai banyak potensi, salah satunya banyaknya peneliti dengan kepakaran yang berbeda. Proposal yang dibuat pun akan memungkinkan untuk kolaborasi baik nasional maupun internasional.

Selain itu, Prof. Sri Wilarso Budi juga mengingatkan potensi lain yang ada di Balai, yaitu kebun benih yang telah bersetifikat. Selama ini, banyak daerah kesulitan dalam mencari sumber benih yang terdaftar, sehingga sumber benih tembesu dan mahoni ini juga bisa menjadi produk unggulan Balai.

Sedangkan Prof. Rujito Agus Suwignyo menggambarkan demplot Balai yang berada di Sepucuk, Kabupaten OKI juga merupakan produk unggulan Balai, bahkan demplot ini sudah diakui dan dijadikan referensi baik nasional maupun internasional. “Bond Challenge yang diselenggarakan 2017 kemarin itu di Sepucuk merupakan bukti pengakuan dari dunia internasional. Belum lagi konsep agroslivofishery yang diaplikasikan di plot restorasi gambut, juga merupakan capaian dan produk unggulan Balai ini”, ujarnya.

Tim supervisi ini juga berkesempatan mengunjungi demplot agrosilvofishery yang berlokasi di Kabupaten OKI. Mereka berkesempatan memancing ikan alam yang hidup di pematang yang dibangun di demplot tersebut. “Potensi ekowisata juga dapat diwujudkan disini, pengunjung happy, tujuan restorasi gambut juga tercapai”, komentar Prof. Rujito Agus Suwignyo kala menyaksikan tim PUI lainnya tertawa gembira umpan pancingnya disambar ikan selincah. (FA).

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar