Utama

KENISCAYAAN TANAMAN PERTANIAN DI LAHAN GAMBUT

Selasa, 14 Mei 2019 | 65 Dibaca

KENISCAYAAN TANAMAN PERTANIAN DI LAHAN GAMBUT

Palembang (BP2LHK, 13/05/2019)_Budidaya tanaman pertanian menjadi keniscayaan dikembangkan di lahan gambut. Menurut Peneliti Silvikultur Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Palembang, Ir. Bastoni, M.Si, hal itu dapat dilakukan dengan mengusahakan komoditas tanaman yang  mempunyai produktifitas tinggi dan berdaur pendek.

“Tim peneliti BP2LHK Palembang telah berhasil melakukan uji coba beberapa  jenis  tanaman hortikultura di lahan gambut dengan hasil yang memuaskan. Jenis tanaman tersebut antara lain  kangkung, bayam,  timun, tomat, terong, cabe keriting, nanas, dan pinang” terangnya.

Bastoni mengatakan budidaya tanaman hortikultura dapat dilakukan di pematang plot agrosilvofishery, dimana areal tersebut merupakan bagian yang paling lama tidak tergenang. Di lahan gambut terdapat periode tergenang dan tidak tergenang air, maka jenis-jenis tanaman hortikultura yang bisa diusahakan juga harus disesuaikan.

 

Baca: http://www.bpk-palembang.org/information/utama/lakukan-rekayasa-teknis-bp2lhk-palembang-dukung-budidaya-perikanan-integratif-di-lahan-gambut.html

 

“Jenis nanas dan pinang menjadi salah satu komoditas primadona. Dua jenis ini tahan terhadap genangan air, sehingga dapat diusahakan sepanjang tahun di areal pematang. Sedangkan jenis lainnya disesuaikan dengan periode tanpa genangan air dengan jadwal tanam” jelasnya.  

Pola umum kegiatan penyiapan lahan untuk budidaya tanaman hortikultura pada pematang plot  agrosilvofishery dilakukan dengan urutan sebagai berikut: pembuatan bedeng tanam, penaburan pupuk kandang dan dolomit, penanaman dan pemeliharaan.

Ukuran bedeng tanaman adalah lebar 1,2 m dan panjang 30 m per bedeng. Bedengan diisi dengan bagian gambut yang subur. Untuk meningkatkan pH ditambahkan dolomit dan pupuk kandang dari ayam petelur dengan dosis masing-masing 20 kg/10 meter panjang bedengan.

Dari areal pematang yang memiliki luas efektif untuk penanaman sebesar 1.080 m2 per daur panen diperoleh hasil sebagai  berikut: (1) kangkung dengan daur panen 3 – 4 minggu menghasilkan produksi 2 kg/m2 atau total 2.160 kg/1.080 m2, harga Rp. 3.000/kg, potensi pendapatan Rp. 6.480.000 per daur panen; (2) bayam dengan daur panen 3 – 4 minggu menghasilkan produksi 1,5 kg/m2 atau total 1.620 kg/1.080 m2, harga Rp. 4.500/kg, potensi pendapatan Rp. 7.290.000 per daur panen; (3) tomat dengan daur panen 3 – 4 bulan menghasilkan produksi 1,18 kg/batang atau total 4.248 kg/1.080 m2, harga Rp. 5.000/kg, potensi pendapatan Rp. 21.240.000 per daur panen; (4) timun dengan daur panen 2 bulan menghasilkan produksi 1,2 kg/batang atau total 4.320 kg/1.080 m2, harga Rp. 4.000/kg, potensi pendapatan Rp. 17.280.000 per daur panen; (5) cabe keriting dengan daur panen 6 bulan menghasilkan produksi 0,6 kg/batang atau total 2.160 kg/1.080 m2, harga Rp. 10.000/kg, potensi pendapatan Rp. 21.600.000 per daur panen; (6) Terong besar dengan daur panen 4 - 6 bulan menghasilkan produksi 0,7 kg/batang atau total 2.520 kg/1.080 m2, harga Rp. 5.000/kg, potensi pendapatan Rp. 12.600.000 per daur panen.

Pengusahaan tanaman hortikultura di lahan gambut bukanlah tanpa resiko. Serangan hama penyakit, stress karena kelebihan atau kekurangan air sesuai musim dan fluktuasi harga pasar komoditas menjadi beberapa kendala yang dihadapi.

“Meskipun demikian, budidaya tanaman hortikultura yang sudah diujicobakan ini memberikan alternatif pilihan bagi masyarakat untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dalam usaha merestorasi gambut yang terdegradasi” tegasnya.

Dari keenam jenis komoditas tersebut dari sisi kemudahan budidaya dan harga pasar diperoleh urutan sebagai berikut: cabe keriting, tomat, kangkung, timun, bayam dan terong (nsoe**).

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar