Utama

Kenali Tempat Tumbuhnya, Kurangi Resiko Gagal Panennya

Selasa, 6 Mar 2018 | 131 Dibaca

Kenali Tempat Tumbuhnya, Kurangi Resiko Gagal Panennya

BP2LHK Palembang (Palembang, 1/3/2018). Tingginya minat masyarakat dalam mengembangkan kayu bawang, tidak sebanding dengan pengetahuan mereka akan pentingnya lokasi pengembangan yang ideal untuk tanaman ini. Data dan informasi terkait hal ini, juga tidak gampang ditemukan di beberapa literatur. Untuk menjembatani hal ini, peneliti BP2LHK Palembang yang terdiri dari Sri Utami, Nanang Herdiana, dan Agus Sofyan, membeberkan kondisi umum tempat tumbuh yang cocok, agar petani sukses menanam kayu jenis ini, dalam tulisan mereka yang berjudul Karakteristik dan Persyaratan Tempat Tumbuh Tanaman Kayu Bawang, dipublikasikan di Buku Bunga Rampai Kayu Bawang, terbitan Balai Litbang LHK Palembang dan Tunas Gemilang Press, tahun 2017.

Penelitian yang dilakukan di Provinsi Bengkulu ini mengungkapkan bahwa kayu bawang dapat tumbuh di berbagai variasi ketinggian, mulai dari pinggir pantai sampai daerah pegunungan, yang mempunyai kelerengan mulai dari datar, bergelombang sampai dengan curam. Rata-rata curah hujan yang dikehendaki berkisar antara 500-3.500 mm/tahun, dengan suhu rata-rata tahunan 22-270C, dan musim kering tidak lebih 2—3 bulan. Tanaman ini membutuhkan tanah subur, menyukai tanah geluh berpasir, dengan drainase dan aerasi yang baik. Tanaman ini juga menghendaki areal yang tidak tergenang dan dapat tumbuh pada tanah yang masam dengan pH kurang dari 7. “Uniknya, kayu bawang ini juga dapat tumbuh pada lahan bekas pengembalaan yang telah mengalami pemadatan dan lahan kritis yang belum dimanfaatkan secara optimal”, ujar Sri Utami, dkk, seperti dikutip dari Buku Bunga Rampai Kayu Bawang.

Berdasarkan penelitian ini, Nilai Kapasitas Tukar Kation (KTK) pada umumnya tinggi, dan paling tingggi di Kabupaten Bengkulu Utara yang berkisar 26,25-28,28 me/100 gram. Pada umumnya, tekstur tanahnya tergolong lempung berliat sampai dengan liat kecuali di Kabupaten Rejang Lebong yang bertekstur sedikit berpasir (lempung berpasir). Berdasarkan analisis studi hara, jenis tanah yang terdapat di Provinsi Bengkulu yaitu organosol, alluvial, regosol, asosiasi podsolik merah kuning-latosol, latosol, andosol, asosiasi andosol-regosol, asosiasi, dan podsolik coklat-podsolik litosol.  

Kayu bawang memiliki kualitas kayu yang baik, termasuk tingkat ketahanan B atau tingkat ketahanan cukup tahan sampai tahan terhadap serangan rayap. Kayu ini tergolong jenis kayu yang kuat, awet dan mudah dikerjakan. Kayu ini banyak dipergunakan untuk konstruksi ringan, bangunan rumah, perahu, mebel, panel dan vinir. Kayu bawang umumnya hidup di hutan dataran rendah yang beriklim lembab di Asia Pasifik bagian Tenggara. Jenis kayu ini merupakan jenis asli Semenanjung Malaysia, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Aru dan Palawan di Filipina, dan Papua New Guinea. Namun, tanaman ini juga sudah lama dibudidayakan di negara tropis lainnya yang bukan sebaran alaminya seperti Taiwan, Guatemala, Hawaii, Singapura dan Thailand. Di Indonesia, tanaman ini sering dijumpai di Provinsi Bengkulu dan Jawa Barat.

Kayu bawang dibudidayakan baik menggunakan pola campuran maupun monokultur. Pola campuran dilakukan dengan mengkombinasikan tanaman kayu bawang dengan jenis tanaman lainnya seperti jati, mahoni, sungkai, terap, duren, nangka, cempedak, karet, sawit, coklat dan kopi. Di Provinsi Bengkulu, kayu bawang ditanam di pinggir lahan sebagai batas kepemilikan lahan, selain itu juga ditanam secara selang-seling dengan tanaman kopi, sawit, karet atau coklat yang merupakan tanaman utama. Hasil penelitian ini, selengkapnya dapat diunduh di http://www.bpk-palembang.org/publikasi/buku/kayu-bawang-bag-ii.html (Fitri Agustina).

 

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar