Utama

Erosi di Hulu DAS Musi Mengkhawatirkan

Kamis, 23 Mei 2019 | 111 Dibaca

Erosi di Hulu DAS Musi Mengkhawatirkan

Palembang (BP2LHK, 23/05/2019)_Bahaya erosi di bagian hulu DAS Musi, berada pada level yang mengkhawatirkan. Hal ini dikemukakan oleh Adi Kunarso, peneliti konservasi dan pengaruh hutan Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Palembang, yang bersama dengan timnya melakukan studi di sub DAS Perapau (3.923,60 Ha), salah satu sub DAS yang berada di bagian hulu DAS Musi. Tercatat sekitar 30% dari total luas sub DAS Perapau yang terletak di wilayah Semendo, Kabupaten Muara Enim yang masuk dalam kriteria erosi berat hingga sangat berat.

“Erosi di sub DAS Perapau telah mencapai tingkat yang sangat mengkhawatirkan, hal ini ditunjukkan dari hasil kajian kami yang menunjukkan tingkat bahaya erosi berat hingga sangat berat dengan luas mencapai 1.187,22 hektar” ungkapnya.

Lebih lanjut, Adi Kunarso menjelaskan tingkat bahaya erosi berat hingga sangat berat tersebut berada pada tata guna lahan yang sebagian besar berupa kebun kopi monokultur dan sebagian berupa tanah terbuka pada kelerengan curam hingga sangat curam.

“Erosi yang terjadi di sub DAS Perapau sebagian besar disebabkan oleh kombinasi curah hujan yang tinggi dan konversi kawasan hutan menjadi kebun kopi, dan tanah-tanah terbuka di lahan dengan kemiringan >25%. Hal ini diperparah lagi dengan belum adanya tindakan konservasi tanah pada lahan yang sebagian besar berada pada kelerengan yang curam hingga sangat curam” jelasnya.

Kebun kopi di sub DAS Perapau memiliki luas 1.094,58 hektar (ha) atau sekitar 27,89% dari luas sub DAS Perapau yang terdiri dari kebun kopi muda seluas 951,86 ha (24,26% dari luas sub DAS Perapau) dan kebun kopi tua seluas 142,66 ha (3,64% dari luas sub DAS Perapau).

Dari kedua tutupan lahan ini, lahan dengan tutupan kebun kopi muda mempunyai potensi terbesar terjadinya erosi. Hal ini disebabkan dominasi tanaman kopi berumur kurang dari 3 tahun yang belum mempunyai tajuk rapat dan umumnya tanpa tanaman pelindung dan penutupan tumbuhan bawah. Tajuk dan tumbuhan bawah berfungsi menahan energi kinetik air hujan sebelum jatuh ke permukaan tanah. Oleh karena itu memiliki pengaruh besar pada tingkat limpasan dan erosi tanah.

Adi Kunarso menambahkan, untuk memperkecil potensi terjadinya erosi di sub DAS perapau perlu dilakukan usaha-usaha konservasi tanah dan air, baik secara vegetatif maupun mekanis. Konservasi tanah secara vegetatif bisa dilakukan dengan merehabilitasi hutan dibagian hulu sub DAS yang telah dibuka dan penerapan pola agroforestri pada kebun kopi monokultur.

“Rancangan atau skenario konservasi tanah baik secara vegetatif maupun mekanis, seperti pembuatan teras di sub DAS Perapau diprediksi akan mampu menurunkan luas area yang terdampak erosi dengan kategori sangat berat masing-masing seluas 338,63 ha atau 42,6% dan 359,23 ha atau 45,2% ” tegasnya.   (nsoe**)



Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar