Utama

Degradasi Lahan Gambut Sebabkan Penurunan Mata Pencaharian Masyarakat di Kabupaten OKI

Senin, 24 Jun 2019 | 117 Dibaca

Degradasi Lahan Gambut Sebabkan Penurunan Mata Pencaharian Masyarakat di Kabupaten OKI

BP2LHK Palembang (Palembang, 12/06/2019)._ Penghidupan masyarakat di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan sangat bergantung pada lahan gambut. Pasalnya, kondisi lahan gambut tersebut semakin lama semakin terdegradasi. Lahan gambut yang terdegradasi akan mengalami penurunan fungsi, baik secara fisik, lingkungan, ekonomi dan sosial yang akan berimbas baik langsung dan tak langsung pada penurunan sumber mata pencaharian mereka. Upaya ini patut dilakukan untuk menjawab tantangan kebutuhan lahan kedepan.

“Ekstensifikasi pertanian pada akhirnya akan mengarah pada lahan-lahan suboptimal, salah satunya lahan gambut. Bila lahan gambut yang terdegradasi tidak segera direhabilitasi dan direstorasi,akan terjadi degradasi lebih lanjut yang dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat disekitarnya, akan tetapi juga masyarakat umum secara luas”, ujar peneliti Balai Litbang LHK Palembang, Sri Lestari, seperti dikutip dalam tulisan “Degradasi Lahan Gambut Serta Upaya Restorasi untuk Pemberdayaan Masyarakat dan Peningkatan Ekonomi: Kasus di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan” ditulis bersama Bondan Winarno dan Bambang T Premono, terbit di buku Prosiding Seminar Nasional 2018 tema Merawat Asa Restorasi Gambut, Pencegahan Kebakaran dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat, Balai Litbang LHK Palembang, hal 199-206.

Sri Lestari menjelaskan bahwa dalam dua dekade terakhir, lahan gambut semakin banyak digunakan sebagai akibat dari peningkatan jumlah penduduk yang sangat signifikan, dan lagi sebagian besar masyarakat di Kabupaten OKI masih bergantung pada lahan pertanian. Mata pencaharian utama masyarakatnya adalah bertani karet sedangkan bekarang (mencari ikan) di wilayah bergambut biasanya dilakukan pada musim kemarau. Beberapa waktu terakhir, banyak masyarakat dari luar yang berinvestasi kerbau rawa di wilayah ini, sedangkan masyarakat setempat hanya sebagai pemelihara saja. Bila musim hujan tiba dan jumlah pakan melimpah, produksi susu kerbau akan melimpah sehingga banyak ibu rumah tangga yang membuat produk olahan susu kerbau. Selain itu, masih banyak kaum perempuannya yang membuat kerajinan dari bahan purun, terutama dalam bentuk tikar.

Banyak kendala yang ditemukan dalam melakukan budidaya di lahan gambut ini, seperti terjadi penurunan muka tanah setelah drainase, mengalami sifat mengerut tidak balik sehingga menurunkan daya retensi air, tingkat kesuburan yang rendah, tanah masam (pH rendah), sampai daya tahan (bearing capacity) rendah sehingga pohon akan mudah roboh. “Lahan gambut yang terdegradasi masih memungkinkan untuk budidaya asal pemilihan jenis tanamannya tepat, kesesuaian lahan diperhatikan dan kesuburan tanahnya diperbaiki terlebih dahulu agar produktifitas dan kelestarian lahan gambut dapat tercapai”, kata Sri Lestari.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pengelolaan lahan yang tepat dan dengan penambahan input dapat memperbaiki kondisi sifat fisik dan kimiawinya, sehingga lahan gambut dapat menjadi lahan yang memiliki produktifitas yang baik untuk budidaya. 

 

Menyoal degradasi lahan gambut di Kapubaten OKI, Sri Lestari berpendapat kalau degradasi ini terjadi karena banyaknya alih fungsi lahan, pembalakan liar, proses drainase yang kurang tepat, kebakaran serta adanya pembukaan lahan untuk program transmigrasi. Menurutnya, kebijakan pengelolaan lahan juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kerusakan dan terganggunya fungsi lahan gambut. Pemberian konsesi kepada perusahaan pengusahaan kayu berkontribusi cukup besar, karena ijin usaha pemanfaatan kayu yang diberikan kepada perusahaan, memberikan ijin untuk melakukan penebangan pohon secara legal. Selain itu, pengusahaan tanaman sawit skala luas oleh perusahaan perkebunan dan investor luar negeri juga turut andil dalam menyumbang laju degradasi lahan gambut dengan pembuatan kanal saluran air, penebangan pohon dan pembangunan jalan loggingnya.

Dari 1.287.899 Ha lahan gambut yang dimiliki Sumatera Selatan, 70.3 % diantaranya atau seluas 905.980 Ha dikategorikan lahan gambut terdegradasi. Upaya rehabilitasi dan restorasi harus dilakukan untuk menyelamatkan peran lahan gambut dan kerusakan lebih lanjut. Keberhasilan restorasi lahan gambut harus memperhatikan aspek sosial-ekologi dan penghidupan masyarakat lokal yang bersentuhan langsung dengan lahan gambut.

Tulisan ini selengkapnya dapat diunduh di https://drive.google.com/drive/u/0/folders/1fnNeIT4Zphz2U7GEWMJ451IDvFAtXLMd (FA).

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar