Reportase

Kali Pertama, Balai Litbang LHK Palembang Gelar Presentasi Studi ASN

Senin, 16 Apr 2018 | 81 Dibaca

Kali Pertama, Balai Litbang LHK Palembang Gelar Presentasi Studi ASN

BP2LHK Palembang (Palembang, 16/04/2018). Salah satu syarat bagi ASN yang sudah mengikuti tugas belajar untuk dapat dicantumkan gelarnya dan diaktifkan kembali di unit kerja nya masing-masing adalah dengan melaksanakan presentasi hasil studi seperti yang dipersyaratkan dalam Peraturan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia nomor P.14/P2SDM/SET/PEG.1/12/2017 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Presentasi Hasil Studi Bagi Pegawai Negeri Sipil Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kegiatan yang baru pertama kali dilaksanakan di UPT Kementerian LHK lingkup Provinsi Sumatera Selatan ini dilaksanakan di Ruang Rapat Tembesu Balai Litbang LHK Palembang pada Jumat (13/04/2018) yang lalu.

Presentasi hasil studi S2 ini dilaksanakan oleh pegawai Balai Litbang LHK Palembang, Suningsih, S.Hut dengan topik penelitian “Implementasi Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 10 Tahun 2010 di Kabupaten Ogan Komering Ilir (Studi Kasus Desa Riding kecamatan Pangkalan Lampam)”. Presentasi ini dihadiri oleh perwakilan seluruh UPT Kementerian LHK lingkup Provinsi Sumatera Selatan dan Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan. Sementara itu, Kepala Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Pengendalian Hutan dan Lahan Wilayah Sumatera (BPPI & KHL Wilayah Sumatera) Dr. Israr, S. Hut. M.Sc dan peneliti ahli karhutla Balai Litbang LHK Palembang, Dr. Mamat  Rahmat, S. Hut., M.Si, diminta untuk menjadi pembahas dalam presentasi ini.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 10 Tahun 2010 tentang Mekanisme Pencegahan Kerusakan Lingkungan Hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan/atau lahan di kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan dengan menggunakan teori proses implementasi kebijakan yang dipopulerkan oleh Smith (1973). Penelitiannya sendiri dilakukan dari Juni s.d. September 2017 dan berlokasi di Desa Riding, Kecamatan Pangkalan Lampan Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan.

Teori Smith ini menggunakan 4 variable fokus penelitian untuk mengkaji implementasi peraturan tersebut. “Ke-empat variable tersebut adalah organisasi pelaksana (implementing organization), aspek kebijakan yang diidealkan (idealized policy),  kelompok sasaran (target group), dan faktor lingkungan (environmental factor)”, jelas Suningsih. Dari analisis teori tersebut, Suningsih menyimpulkan bahwa implementasi peraturan tersebut belumlah berjalan efektif.  Lebih lanjut Suningsih menjelaskan secara rinci bagaimana ke-empat variable tersebut mendukung kesimpulannya. Dalam variable pertama - organisasi pelaksana (implementing organization), Suningsih menyatakan bahwa ranah kewenangan implementasi Permen LH nomor 10 tahun 2010 terletak pada Dinas Lingkungan Hidup, akan tetapi pelaksanaan pembukaan lahan tanpa bakar sebagai salah satu mekanisme dalam pencegahan karhutla berkaitan juga dengan beberapa instansi lainnya antara lain kehutanan dan perkebunan. Di variable kedua - aspek kebijakan yang diidealkan (idealized policy) - Suningsih menganalisis bahwa implementasi nya berupa penerapan pembukaan lahan tanpa bakar, sosialisasi larangan membakar yang disertai dengan sanksi yang mengikuti bagi pelaku pembakaran dan pelatihan pemadaman karhutla yang melibatkan berbagai pihak baik pemerintah maupun swasta. Di variable ketiga, kelompok sasaran (target group) – yaitu masyarakat desa Riding, masih menurut Suningsih, mengapa Permen LH ini tidak optimal karena walaupun mendapat tanggapan positif, masyarakat masih menggangap larangan pembakaran ini bukan upaya solutif dan keterbatasan teknologi dan sumberdaya yang membuat masyarakat masih melakukan pembakaran untuk membuka lahan. Variable terakhir yang diuji adalah faktor lingkungan (environmental factor), dimana bulan-bulan basah hampir sepanjang tahun 2016, menjadikan jumlah titik panas yang terpantau menurun secara signifikan.

Pemaparan ini mendapatkan apresiasi baik dari pembahas maupun peserta yang hadir. Senada dengan Suningsih, pembahas Dr. Israr, S. Hut. M.Sc pun mengiyakan bahwa faktor penghambat karhutla di tahun 2016 memang banyak dibantu oleh cuaca. Namun, beliau juga menyarankan bahwa akan lebih baik bila menambahkan data di tahun sebelumnya, dimana banyak bulan-bulan kering. “Analisis penelitiannya akan lebih bisa dikembangkan dan lebih tajam pembahasannya”, ujarnya. (Fitri).

 

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar