Reportase

Inisiasi Kerjasama PT. Alam Bukit Tiga Puluh dalam Merestorasi Kawasan

Selasa, 21 Ags 2018 | 60 Dibaca

Inisiasi Kerjasama PT. Alam Bukit Tiga Puluh dalam Merestorasi Kawasan

PT. Alam Bukit Tiga Puluh (ABT), pemegang izin usaha pengelolaan hasil restorasi ekosistem (IUPHHK-RE) menginisiasi kerjasama dengan Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Palembang. Kerjasama yang akan dijalin di fokuskan pada upaya merestorasi lahan eks perkebunan kelapa sawit dengan jenis tanaman keras dan beberapa jenis tanaman hasil hutan bukan kayu (HHBK) bersifat lokal yang memiliki tingkat toleransi tinggi.

"Balai kami pada prinsipnya sangat terbuka untuk menjalin kerjasama dengan PT. Alam Bukit Tiga Puluh, apalagi inisiasi ini didasari keinginan untuk melakukan restorasi pada lahan bekas perkebunan kelapa sawit. Harapannya lahan tersebut bisa kembali berhutan" kata Ir. Tabroni, Kepala BP2LHK Palembang di kantor BP2LHK Palembang pada Senin (20/08).

Lebih lanjut, Kepala Balai menambahkan bahwa BP2LHK Palembang dengan basis kelitbangan akan berperan dalam transfer knowledge atau teknologi aplikatif sesuai dengan kebutuhan sehingga dapat menghasilkan nilai baik ekonomi, ekologi dan sosial yang tinggi.

PT. Alam Bukit Tigapuluh sebelumnnya telah memperoleh Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE) berdasarkan Surat Keputusan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor: 7/1/IUPHHK- HA/PMDN/2015 pada 24 Juli 2015. Kawasan hutan areal konsesi IUPHHK-RE PT seluas 38.655 hektar di Kabupaten Tebo merupakan kawasan dengan tipe hutan hujan tropis dataran rendah. Beberapa komunitas penduduk asli tradisional Jambi seperti Suku Anak Dalam, Talang Mamak, dan Melayu Tua tinggal di dalam areal kerja PT ABT dan memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap hutan di areal kerja perusahaan. Keberadaan mereka diharapkan bisa sejalan dengan tujuan restorasi ekosistem. Kompleksitas masalah sosial di tingkat tapak pada areal kerja PT. ABT pada satu dekade terakhir menjadi lebih tinggi karena banyaknya pendatang dari luar provinsi yang mencari peluang usaha di kawasan hutan. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan utama bagi PT ABT dalam melakukan pengelolaan hutan untuk restorasi ekosistem. **soe.

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar