Reportase

Gali Potensi Ulin si Kayu Besi, KPHP Meranti Undang BP2LHK Palembang Kolaborasi

Senin, 16 Okt 2017 | 11 Dibaca

Gali Potensi Ulin si Kayu Besi, KPHP Meranti Undang BP2LHK Palembang Kolaborasi

BP2LHK Palembang (Palembang, 16/10/2017). Status kayu ulin (Eusideroxylon zwageri ) dalam perdagangan internasional diatur oleh CITES (Convention on Internatioal Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) dengan kategori Appendix II.  Kayu yang di Sumatera Selatan sering disebut bulian/onglen ini, banyak disukai karena kekuatan dan ketahanannya terhadap insek dan jamur pelapuk. Karena kekuatan dan ketahanannya, tak heran kayu ini sering disebut sebagai kayu besi dan paling banyak diburu khususnya untuk konstruksi pembangunan dan alat-alat berat. Permintaan pasar yang tinggi terhadap kayu ini mengakibatkan laju eksploitasi yang intensif, akibatnya keberadaan kayu besi di hutan alam menjadi semakin langka.

Masih adanya tegakan kayu ulin di hutan alam di Kabupaten Musi Banyuasin, mendorong Kepala  KPHP Meranti, Wan Kamil, menyambangi BP2LHK Palembang guna berkolaborasi dalam pengelolaan konservasi kayu ulin. “Kita butuh pakar atau ahlinya agar konservasi kayu langka ini dapat berjalan dengan baik”, ujarnya. Dijelaskan lebih lanjut bahwa saat ini KPHP Meranti sedang menyusun gagasan untuk membangun demplot konservasi kayu ulin di areal hutan produksi pemanfaatan wilayah tertentu KPHP Meranti. Demplot ini kemudian akan dijadikan sebagai ajang “show window” ke masyarakat sekitar, agar mereka juga ikut berpartisipasi melestarikan kayu nomor satu ini.

Kepala Balai Litbang LHK Palembang, Ir. Tabroni., M.M menyambut baik pertemuan yang diadakan di ruang rapat Tembesu Balai Litbang LHK Palembang (Senin, 16/10) tersebut. Beliau menyampaikan bahwa pertemuan ini merupakan awal yang baik untuk kerja sama di masa mendatang, dan pihak Balai akan mendukung kolaborasi pengelolaan konservasi kayu ulin ini dengan menyediakan tenaga-tenaga ahli teknis. “Saat ini Balai memiliki 22 peneliti yang aktif serta penguasaan IPTEK di bidang terkait. Sudah cukup banyak organisasi lain yang kita bantu saat ini “, tuturnya.

Terkait pengelolaan konservasi kayu ulin, peneliti dan teknisi litkayasa BP2LHK Palembang yang ikut hadir dalam pertemuan ini juga sepakat atas konsep konservasi tersebut. “Kayu ulin memiliki kerapatan yang tinggi, sehingga tidak bisa digabung dengan konsep agroforestri”, ujar peneliti silvikultur, Sahwalita, S.Hut, M.P. Sedangkan Kusdi, S.Hut, teknisi litkayasa, mengingatkan pihak KPHP agar bersiap bilamana demplot ini berpotensi memicu konflik dengan masyarakat sekitar. Karena menurut Sri Lestari, S.Hut, M.SE, M.A, peneliti sosek dan kebijakan, peluang penjarahan masyarakat di demplot ini akan tinggi, apalagi bila masyarakat sekitar tidak mempunyai alternatif penghasilan lainnya. Pengamanan terhadap demplot ini akan menjadi prioritas pertama bila akan diwujudkan pembangunannya.

Menanggapi kondisi masyarakat dan permasalahan tersebut, Wan Kamil melihat permasalahan ini sebagai tantangan yang harus dihadapi dan berharap dapat mengurai benang permasalahannya satu persatu dan dilakukan bersama-sama dengan masyarakat dan instansi pemerintah lainnya, salah satunya dengan BP2LHK Palembang. Kepala KPHP Meranti tersebut yakin, bila kerja sama ini berjalan dengan baik, bukan hanya dapat melestarikan kayu ulin, tetapi juga dapat melindungi satwa liar, dengan adanya koridor satwa di daerah tersebut yang dikelola oleh pihak swasta.

KPHP Model Unit III Meranti di Kabupaten Musi Banyuasin ditetapkan dengan  SK Menteri Kehutanan Nomor SK.439/MenhutII/2012 tanggal 09/08/2012  dengan luas ± 41.126 ha, terdiri dari Hutan Produksi (HP) dengan luas ± 21.995 ha dan hutan Lindung (HL) dengan luas ± 19.131 ha. Zaman dahulu, di KPHP ini mayoritas pohon yang ditanam adalah meranti sehingga kemudian dinamakan KPH Model Meranti. (Fitri Agustina).

 

 

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar