Reportase

Diseminasi Hasil Litbang Tak Cukup Hanya di Jurnal

Rabu, 8 Nov 2017 | 5 Dibaca

Diseminasi Hasil Litbang Tak Cukup Hanya di Jurnal

BP2LHK Palembang (Palembang, 7/11/2017). Kurang populernya hasil-hasil litbang Kementerian LHK di masyarakat, membuat kinerja litbang Kementerian LHK tidak dikenal masyarakat luas. Padahal, banyak penelitian dan pengembangan dari litbang Kementerian LHK yang sudah siap diterapkan di masyarakat. Kepala Pusat Litbang Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim (P3SEKPI), Dr. Ir. Syaiful Anwar, M.Sc menuturkan hasil-hasil litbang hendaknya tidak selesai didiseminasikan di jurnal saja, melainkan perlu cara agar penyebarluasan informasi ini dapat menyentuh semua kalangan khususnya masyarakat yang membutuhkan iptek tersebut.

“Kekurangan Litbang ada di strategi komunikasinya. Komunikasi yang kita lakukan sekarang masih belum efektif, hingga hasil penelitian kita hanya bertumpuk di rak-rak perpustakaan dan bukan tersebar aplikatif di masyarakat. Kita harus memikirkan bagaimana hasil-hasil litbang dapat dikomunikasikan dengan baik ke masyarakat” ujarnya dalam sambutan acara Pembinaan Pegawai di ruang rapat Tembesu BP2LHK Palembang (Selasa, 7/11/2017). Dijelaskan lebih lanjut, strategi komunikasi yang baik yang bisa dilakukan adalah dengan mengubah penggunaan bahasa ilmiah yang kaku ke penggunaan bahasa populer yang lebih bisa dimengerti masyarakat luas. Karena itu penguasaan penggunaan bahasa populer mutlak diperlukan di Litbang.

Salah satu bentuk strategi komunikasi efektif yang dilakukan P3SEKPI saat ini adalah berupa pembuatan Policy Brief yang diserahkan ke Pemerintah. Dengan cara ini, Litbang Kementerian LHK dapat berkontribusi nyata dalam pembangunan pengelolaan kehutanan di Indonesia. Beliau berharap, peneliti-peneliti khususnya di bidang sosial, ekonomi dan kebijakan dapat saling bahu membahu, dan bergotong royong untuk mewujudkan kegiatan tersebut.

Di kesempatan ini juga, Kapus P3SEKPI mengajak peneliti untuk giat menelurkan inovasi litbang. Karena itu, setiap peneliti dalam melakukan pekerjaannya hendaknya memiliki “inner obsession” sehingga dalam melakukan pekerjaannya penuh pengabdian dan tidak asal-asalan, walaupun, beliau juga mengakui bahwa kondisi peneliti di luar negeri jauh lebih baik ketimbang menjadi peneliti di dalam negeri. “Di negara-negara maju, fasilitas untuk penelitian dan pengembangan sangat lengkap, karena mereka menempatkan kegiatan litbang sebagai prioritas kegiatannya. Sayangnya di kita terbalik, kebutuhan litbang di Indonesia belum dipandang sebagai sesuatu yang penting. Namun, walaupun bukan menjadi prioritas, tidak serta merta membuat kita lantas kecewa dan tidak melakukan yang terbaik”, tuturnya. (Fitri Agustina).

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar