Regional

Banjir dan Longsor di Bengkulu Putus Akses Antarkota

Senin, 29 Apr 2019 | 43 Dibaca

Banjir dan Longsor di Bengkulu Putus Akses Antarkota

BENGKULU– Rentetan bencana mengoyak Provinsi Bengkulu. Banjir, longsor, dan gempa memorak-porandakan beberapa daerah di provinsi tersebut. Korban jiwa pun bertambah. Data terbaru yang dirangkum Rakyat Bengkulu hingga kemarin, ada 17 korban meninggal dan puluhan luka-luka. Kerugian materi akibat bencana itu diprediksi mencapai Rp 138 miliar. BPBD Provinsi Bengkulu juga melansir, jumlah pengungsi mencapai 12 ribu orang dari 13 ribu warga yang terdampak bencana. “Tujuh orang masih dicari,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bengkulu Rusdi Bakar.

Hujan deras mengguyur seluruh wilayah Bengkulu sejak Jumat (26/4) hingga Sabtu pagi (27/4). Sungai-sungai meluap dan longsor terjadi di banyak tempat. Kondisi tersebut diperparah dengan gempa yang terjadi pada Sabtu. Untung, gempa tersebut hanya berskala kecil. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, bencana banjir dan longsor terjadi di sembilan kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu.

Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah meminta para bupati dan wali kota di wilayahnya menetapkan status siaga bencana. Hal itu disampaikan Rohidin setelah menerima bantuan dana siap pakai penanganan banjir dan longsor dari BNPB sebesar Rp 2,250 miliar tadi malam (28/4).

“Dengan status siaga bencana, setiap kepala daerah bisa mengambil sikap untuk penanganan masa emergency sekarang. Kita lihat 2-3 hari ke depan, mudah-mudahan kondisi cuaca makin baik,” kata Rohidin. Dia mendapat kabar bahwa beberapa desa masih terisolasi karena akses terputus. “Kami mohon bantuan BBM dipermudah karena kondisi masyarakat benar-benar membutuhkan,”‘ lanjut Rohidin dengan suara pelan, menahan tangis. Dia juga meminta PLN mengoptimalkan pasokan listrik di titik-titik pengungsian. “Tolong pastikan jaringan listrik dalam kondisi aman,” pintanya.

Kapusdatin dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, dampak bencana terus meluas. “Dampak bencana dapat bertambah karena belum semua lokasi bisa dijangkau,” jelasnya. Dampak bencana susulan yang mungkin timbul adalah munculnya penyakit kulit karena minimnya air bersih, gangguan ISPA, dan lain-lain. Selain itu, longsor dan banjir berpotensi kembali terjadi jika curah hujan tinggi.

Berdasar laporan dari Kedeputian Meteorologi BMKG, hujan ekstrem dengan curah mulai 150 hingga hampir 350 milimeter turun merata di Provinsi Bengkulu. Curah hujan tertinggi turun di Kecamatan Manna. Mencapai 349 milimeter.

Sutopo menambahkan, posko induk di BPBD Provinsi Bengkulu telah didirikan, tepatnya di Ruang Pusdalops. Penyelamatan, pencarian, dan evakuasi korban dilakukan dengan menggunakan perahu karet. Dapur umum didirikan dan pendistribusian makanan dilaksanakan.

Perbaikan darurat juga dilakukan untuk jalur transportasi dan distribusi bantuan yang terputus. “Jalan dan jembatan yang putus telah didata dan diamankan dengan memasang rambu peringatan di jalan,” jelas Sutopo. Namun, petugas masih kesulitan untuk menjangkau lokasi-lokasi banjir dan longsor karena seluruh akses terputus. “Koordinasi dan komunikasi dengan kabupaten/kota cukup sulit karena banyak aliran listrik yang terputus,” terangnya.

Sementara itu, beberapa akses transportasi masih terputus. Salah satunya di jalur lintas Tes-Curup yang tertutup material longsor. Hingga kemarin proses evakuasi material longsor belum sepenuhnya tuntas. Alhasil, jalur lintas utama Lebong-Rejang Lebong itu harus buka tutup. Saat kondisi jalan lengang, petugas mengeruk material longsor yang masih berserakan di bahu jalan. Namun, ketika banyak kendaraan yang antre, jalan kembali dibuka. “Terpaksa kami berlakukan buka tutup jalan supaya petugas kami dan pengendara sama-sama bisa jalan,” kata Kepala BPBD Kabupaten Lebong Fakhrurrozi.

Sumber : https://sumeks.co/banjir-dan-longsor-di-bengkulu-putus-akses-antarkota/ diakses pada tanggal 29 April 2019, 10:16

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar