Berita ~ Fokus Litbang

BRG Bakal Adopsi Model Agrosilvofishery BP2LHK Palembang Dalam Skala Luas

Rabu, 17 Jul 2019 | 70

BRG Bakal Adopsi Model Agrosilvofishery BP2LHK Palembang Dalam Skala Luas

BP2LHK Palembang (Palembang, 26/06/2019)._ Model agrosilvofishery restorasi gambut yang diterapkan Balai Litbang LHK Palembang di plot pilot model restorasi, bekerja sama dengan Badan Restorasi Gambut (BRG) dalam waktu dekat akan diadopsi dalam skala luas. Hal ini dikatakan oleh Kepala Deputi Penelitian dan Pengembangan, Badan Restorasi Gambut, Harris Gunawan dalam diskusi pengembangan plot show window model restorasi berbasis KHG yang diselenggarakan di Ruang Rapat Tembesu, Balitbang LHK Palembang (Rabu,26/6).

Harris mengungkapkan plot agrosilvofishery yang terletak di Kelurahan Kedaton, Kecamatan Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) telah ditetapkan BRG sebagai salah satu show window keberhasilan restorasi gambut di Sumsel. Plot ini memberikan pembelajaran tentang potensi pengembangan paludikultur dan perikanan rawa. “Suatu kebanggaan bagi kita, apabila kita bisa memberikan bukti keberhasilan restorasi gambut kepada negara lain. Bisa jadi, plot agrosilvofishery ini terobosan satu-satunya di dunia, dan kita akan mematahkan anggapan negara lain yang menganggap kita sebagai negara pengekspor asap, ini terkait dengan harga diri dan ketersinggungan kita sebagai bangsa”, ujar dia.

Terkait ekstensifikasi plot agrosilvofishery, dia mengatakan pihaknya sudah melakukan observasi lebih lanjut, dan melihat adanya potensi pengembangan lebih luas dengan perlunya meningkatkan partisipasi masyarakat pemilik. “300 ha lahan yang terbengkalai karena tidak produktivitasnya padi di Kabupaten OKI sudah kita bidik”, jelasnya.

Harris juga mengungkapkan belum menemukan hal yang unik dari praktek restorasi gambut di Sumsel. Menurutnya, Sumsel punya banyak potensi yang masih bisa digali seiring dengan bertambahnya jumlah area lahan gambut yang harus direstorasi di Sumsel, yaitu dari 615 ribu hektar ke 656 ribu hektar, apakah itu model agrosilvofisherynya, sistem paludikulturnya, perikanannya ataukah pariwisatanya.

Bastoni, peneliti Balitbang LHK Palembang, dalam kesempatan yang sama mengatakan model agrosilvofishery yang dikembangkan ini memang diwujudkan untuk memberikan ruang kolaborasi antar sektor, sehingga membuahkan hasil yang terintegrasi. Saat ini, Balitbang LHK Palembang sudah menjalin kerja sama dengan Pusat Litbang Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan telah menginisiasi kerja sama dengan Pusat Litbang Karet dan Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.

Bastoni optimis, dengan sinergi keempat instansi ini tujuan dari restorasi gambut akan cepat tercapai, bukan hanya dapat mencegah kebakaran tetapi juga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat kedepan. “Hasil di lapangan menunjukkan tinggi muka air tanah sudah sesuai dengan amanat PP. 57 tahun 2016,  yang membatasi peluang terjadinya kebakaran. Praktek paludikulturnya memberikan hasil yang memuaskan, dari 12 jenis hortikultura yang dicobakan di plot ini, 6 jenis berhasil dibudidayakan, antara lain kangkung, cabe keriting, tomat ceri, jagung manis, ketimun dan daun bawang. Ditambah lagi dengan hasil budidaya perikanan yang menjanjikan, serta luasan tutupan vegetasi yang semakin bertambah” ucapnya.

Bastoni mengungkapkan budidaya dengan pola agrosilvofishery di demplot ini telah menerapkan prinsip-prinsip paludikultur  dengan memanfaatkan   fluktuasi tinggi muka air tanah musiman, artinya saat genangan surut di awal musim kemarau, petani dapat memanfaatkannya untuk budidaya tanaman hortikultura, namun saat genangan air tinggi, areal tersebut mampu memerangkap ikan alam yang bermigrasi dari danau Teloko. Selain itu, petani juga dapat memanfaatkannya untuk budidaya padi. (FA).

Isi Komentar Anda

  • Email tidak akan ditampilkan
  • Komentar akan di Validasi terlebih dahulu oleh Admin sebelum ditampilkan

0 Komentar